Jumat, 30 Juli 2010

SANTET

SANTET DAN PENCEGAHANNYA

Belakangan negeri kita dihebohkan kembali dengan kasus-kasus ilmu hitam didalam hal ini santet…
Pada masa perkembangan dan zaman serba teknologi, masih ada beberapa orang di Indonesia yang masih percaya dan menggunakan santet sebagai bahan penyelesaiannya.
Disini kita akan membahas mengenai santet dan tanda-tandanya. Semoga sedikit tulisan ini bisa berguna untuk orang-orang yang membacanya, sebagai masukan. Tetapi harus diingat santet, guna-guna, teluh hanyalah istilah dari permainan iblis untuk menyesatkan manusia kedalam kegelapan dan panasnya neraka, Hanya dengan berserah diri kepada Tuhan dan menigkatkan ketakwaan kita terhadap Tuhan dengan menjalankan Perintah-Nya dan menjauhi Larangan-Nya adalah jalan yang terbaik menghindarkan dan melindungi kita terkena santet atau tipu daya iblis lainnya

Mungkin sebagian orang bertanya apa itu santet dan kapan adanya??????????

Santet atau teluh atau guna-guna merupakan bagian dari anak-cucunya sihir, dimana pelaku atau pengguna santet ini menggunakan bantuan iblis dalam bentuk media foto, boneka atau barang-barang yang terdapat atau biasa digunakan oleh korbannya sebagai perantara iblis mendekati targetnya.
Santet atau sihir sudah ada sejak manusia pertama kali diciptakan, bahkan didalam islam diriwatkan bahwa Rosullulah SAW pernah terkena santet dalam hal ini sihir dari suku kafir, dan oleh karena itu Allah SWT menurunkan wahyu kepada Rosullulah SAW berupa surat AL-Falaq untuk mengatasinya.
Hal ini memberikan pengertian bahwa santet bisa menimpah siapa saja, tetapi sekuat atau sehebat apapun santet atau sihir yang digunakan semua itu tidak ada apa-apanya dibandingkan dengan kekuatan keiman dan ketakwaan kita terhadap Allah SWT.

Mungkin ada yang bertanya juga tentang kapan waktunya santet atau sihir mendatangi korbannya?

Umumnya santet menyerang korbannya setelah magrib dan sebelum subuh. Dan waktu yang paling kuat tenaga santetnya adalah ketika tengah malem.
Santet akan sangat berpengaruh ketika korbannya terlelap tidur.
Umumnya santet dikirim pada malem selasa, kamis dan malem sabtu, karena pada malem-malem tersebut dipercaya kekuatan santet yang digunakan akan maksimal.

Mungkin Anda bertanya apa tandanya jika kita terkena atau sedang diincar santet?

Menurut beberapa sumber, ada beberapa tanda-tanda anda sedang di incar santet atau sihir, adapun tanda-tanda pada umumnya, yaitu:
1. Suasana Rumah atau tempat tinggal anda tiba-tiba menyeramkan tidak seperti biasanya.
2. Situasi keluarga yang tadinya harmonis mulai terjadi keretakan atau pertengkaran
3. Anda akan merasa cepat ngantuk setelah magrib datang
4. Anda akan mengalami mimpi buruk selama beberapa malam
5. Udara rumah atau tempat tinggal anda akan terasa lebih dingin atau lebih panas dari biasanya
6. Suasana rumah akan lebih hening dari biasanya
7. Timbulnya perasaan yang tidak tenang secara tiba-tiba dalam beberapa hari

Jika anda merasakan hal-hal tersebut, sebaiknya anda segera menemui guru spiritual atau orang yang dianggap anda bisa terhadap ilmu kebathinan, seperti dukun, paranormal, kiyai, dll. Lebih baik anda bertanya toh tidak ada salahnya, mencegah daripada mengobati.
READ MORE - SANTET

Selasa, 22 Juni 2010

kesehatan

Bahaya Teh Celup


Teh celup kini lebih digemari masyarakat, karena kepraktisannya dalam penyajian. Bagi masyarakat Indonesia, teh sebenarnya tidak pernah bisa dilepaskan dari kehidupan sehari-hari. Hampir setiap hari kita meminum teh, baik di rumah, di rumah makan, bahkan juga di pinggir jalan atau lapangan olahraga. Minuman teh juga bisa ditemukan di mana-mana di Indonesia. Akan tetapi, kebiasaan kita minum teh itu jika dikumulasikan dalam setahun ternyata masih relatif rendah dibandingkan kebiasaan masyarakat Jepang, India, Inggris, atau Sri Lanka dalam mengonsumsi teh. Dalam setahun, orang Indonesia mengonsumsi teh sekitar 250-300 gram saja, atau dalam sehari teh yang kita minum rata-rata berasal kurang dari satu gram bubuk teh. Minuman teh jauh lebih bermanfaat ketimbang kopi, apalagi soft drink. Khasiat teh sudah sejak lama diketahui, baik sebagai antioksidan, sebagai sumber serat alami, maupun sebagai pengurang risiko hipertensi, stroke, dan berbagai penyakit lainnya.

Jenis teh sendiri sebenarnya sangat beragam, begitu juga kualitas hasil olahannya. Meski demikian, pada dasarnya teh itu terbagi menjadi tiga, yaitu teh hitam yang dibuat melalui proses fermentasi, teh hijau yang dibuat tanpa melalui proses fermentasi sama sekali, dan teh oolong yang dibuat melalui proses semi fermentasi. Proses fermentasi di atas pada dasarnya adalah proses oksidasi polifenol yang ada dalam daun teh oleh enzim polifenol oksidase.

Bila dibandingkan dengan minuman kopi, secara umum kualitas teh lebih baik. Bahkan dalam soal kandungan vitamin C, dalam 100 gr teh hijau terkandung 250 mg vitamin C. Padahal untuk ukuran yang sama, pada jeruk mandarin hanya terkandung vitamin C sebanyak 35 mg, atau setiap 100 gr teh hijau Sencha sebanding dengan 700 gr jeruk. Wajarlah bila Institut Kanker Nasional Amerika Serikat berdasarkan hasil penelitiannya menyimpulkan bahwa teh hijau memiliki sifat anti kanker yang kuat.

Teh disajikan dalam berbagai bentuk, misalnya teh celup, dimana teh dimasukkan ke dalam sebuah kantong yang terbuat dari kertas, dan mudah larut jika dicelupkan ke dalam air. Berbagai produk teh celup dengan berbagai merk beredar di pasaran, masing-masing memiliki cita rasa dan aroma yang khas. Dalam proses produksi teh celup, teh yang digunakan adalah teh yang telah dipotong-potong dengan ukuran kecil atau ukuran halus. Khusus untuk teh wangi melati. Teh hijau yang sudah dipotong-potong terlebih dahulu sebelum dicampurkan dengan bunga Melati.

Namun, penggunaan kertas untuk pembungkus teh patut dicermati akan bahayanya untuk kesehatan. Berdasarkan penelitian diduga bahwa kertas tersebut mengandung klorin. Klorin ini adalah senyawa kimia yang sangat jahat dengan lingkungan dan manusia, khususnya dapat menyerang syaraf.
Kertas terbuat dari bubur pulp yang berwarna coklat tua kehitaman. Agar serat berwarna putih, diperlukan sejenis bahan pengelantang (sejenis rinso/baycline) senyawa klorin yang kekuatan sangat keras sekali. Kertas sama dengan kain, karena memiliki serat.

Pada industri pangan di luar negeri produk ini harus melakukan proses neutralization dengan biaya cukup mahal agar terbebas dari klorin dan dapat label kesehatan. Banyak orang berpikir, semakin lama kantong teh dicelupkan dalam air panas, makin banyak khasiat teh tertinggal dalam minuman teh. Padahal, yang terjadi bertolak belakang. Kandungan zat klorin di kantong kertas teh celup akan larut. Apalagi jika Anda mencelupkan kantong teh lebih dari 3 - 5 menit.
Klorin atau chlorine, zat kimia yang lazim digunakan dalam industri kertas. Fungsinya, disinfektan kertas, hingga kertas bebas dari bakteri pembusuk dan tahan lama. Selain itu, kertas dengan klorin memang tampak lebih bersih. Karena disinfektan, klorin dalam jumlah besar tentu berbahaya. Tak jauh beda dari racun serangga. Banyak penelitian mencurigai kaitan antara asupan klorin dalam tubuh manusia dengan kemandulan pada pria, bayi lahir cacat, mental terbelakang, dan kanker.

Sumber:
Anonim, 2003. Teh, Temukan Khasiatnya. Http://www.kompas.com. Akses 28/0/07.
Bayu, 2006. Hati-Hati dengan Teh Celup. http://kangbayu.multiply.com/tag/tea. Akses 28/0/07.
READ MORE - kesehatan

Senin, 07 Juni 2010

artikel

FAKTOR – FAKTOR PENYEBAB KERUSAKKAN BAHAN HASIL PERTANIAN DAN CARA-CARA PENCEGAHANNYA

PeNdAhUlUaN

Kerusakan bahan hasil pertanian dapat tampak sebagai perubahan-perubahan pada sifat organoleptis, nilai gizi atau keamannya. Istilah kerusakkan umumnya diasosiakan dengan pembusukkan yang mengakibatkan bahan tersebut tidak patut lagi dimakan manusia. Untuk keperluan industri, baik industri pertanian maupun pengolahan pangan, kerusakkan sebaiknya dipandang sebagai setiap perubahan yang terjadi pada sifat-sifatnya yang tidak kita inginjan, d.p.l, sifat-sifatnya menyimpang dari suatu standar yang telah ditetapkan terlebih dahulu. Berdasarkan definisi ini maka proses perusakkan akan dimulai segera setelah pemanasan, pemotongan, penangkapan atau pengolahan. Kecepatan proses perusakkan ini berbeda-beda tergantung jenis komoditinya.

“Tabel, DaYa TaHaN sImPaN bErBaGaI bAhAn HaSiL pErTaNiAn”

BaHaN hAsIl PeRtAnIaN

DaYa TaHaN sImPaN pAdA 21°C

( HaRi )

Daging

1-2

Ikan

1-2

Ayam/unggas

1-2

Ikan dan daging yang dikeringkan, diasin atau diasap

360 atau lebih

Buah-buahan

1-7

Buah-buahan kering

360 atau lebih

Sayuran

1-2

Sayuran umbi/akar

7-20

Biji-bijian kering

360 atau lebih

Kerusakkan bahan hasil pertanian dapat dibedakan atas kerusakkan biologis (kerusakkan karena mikroorganisme, insekta, parasit, dan tikus), kimia/biokimia dan mekanis. Faktor-faktor penyebabnya :

* Pertumbuhan dan aktivitas mikroorganisme, terutama ragi, kapang dan khamir

* Aktivitas enzim-enzim

* Insekta, parasit dan tikus

* Suhu lingkungan, baik suhu tinggi maupun suhu rendah

* Kelembaban udara

* Udara, terutama pengaruh oksigen

* Cahaya

* Waktu penyimpanan

Proses perusakkan bahan hasil pertanian berlangsung baik sebelum maupun sesudah panen. Dalam proses tersebut semua faktor-faktor tersebut di atas bekerja secara bersama-sama. Misalnya : bakteri, insekta, dan cahaya dapat bekerja sama dalam menyebabkan pembusukkan. Demikian pula suhu dan kelembaban udara dapat mempengaruhi pertumbuhan dan aktvitas mikroorganisme maupun aktivitas-aktivitas enzim yang terdapat dalam jaringan-jaringan bahan hasil pertanian.

Proses-proses perusakkan yang bekerja pada suatu bahan tertentu dipengaruhi oleh keadaan lingkungan dimana bahan itu disimpan. Dalam usaha pengawetan bahan-bahan hasil pertanian tindakan-tindakan yang diambil bertujuan untuk menghilangkan/mengurangi pengaruh faktor-faktor penyebab kerusakkan hingga seminimal mungkin. Misalnya : Dalam hal pengawetan daging dengan cara pengalengan: Sterilisasi bertujuan mematikan mikroorganisme dan mengnonaktifkan enzim-enzim yang ada di dalam dagingnya. Kita memasukkan daging tersebut dalam kaleng untuk melindunginya terhadap serangan insekta dan tikus, serta pengaruh cahaya yang dapat menimbulkan pemudaran warna dan penurunan nilai gizi. Selain itu, kaleng juga mencegah terjadinya pengeringan dari daging tersebut. Sebelum ditutup kaleng biasanya divakumkan atau udara di dalamnya diganti dengan gas nitrogen untuk mencegah terjadinya reaksi-reaksi oksidasi. Kaleng-kaleng ini kemudian disimpan dalam ruangan yang dingin untuk mencegah/memperlambat kecepatan reaksi-reaksi kimia yang masih bisa berlangsung di dalamnya. Sekalipun telah diambil tindakan-tindakan itu daya tahan simpan makanan di dalamnya tetap masih mempunyai batas-batas tertentu. Jadi, terlihat bahwa dalam usaha-usaha pengawetan kita perlu memperhitungkan jenis-jenis kerusakkan yang bisa terjadi pada bahan tersebut kemudian memilih cara-cara yang diperlukan untuk menghindarinya dalam batas-batas ekonomis.

Untuk memahami kerusakan-kerusakan bahan hasil pertanian perlu diketahui bagaimana faktor penyebabnya.

BaKtErI, kHaMiR dAn KaPaNg

Mikroorganisme dapat dibagi kedalam 2 golongan besar, yaitu :

* Mikroorganisme yang berguna, misalnya mikroorganisme yang diperlukan untuk fermentasi kecap, tempe, alkohol, anggur, bir, asam cuka, keju, dll. Dalam proses fermentasi mikroorganismenya diinokulasikan pada bahan bakunya kemudian lingkungannya kita atur demikian rupa sehingga menguntungkan pertumbuhannya tetapi menekan pertumbuhan mikroorganisme yang tidak berguna.

* Mikroorganisme yang tidak berguna, yaitu mikroorganisme yang menimbulkan penyakit, mensintesa racun dan yang menyebabkan pembusukkan.

Mikroorganisme dijumpai dimana-mana di sekitar kita yaitu dalam tanah, air, udara, kulit, dan bulu hewan, saluran pencernaan dan rongga lainnya dalam tubuh hewan, kulit sayuran dan buah-buahan, kulit gabah, cangkang, kacang-kacangan, alat pengolahan serta kulit, tangan dan pakaian orang-orang yang mengelola makanan.

Perlu diingat bahwa dalam jaringan hewan dan tumbuh-tumbuhan yang sehat tidak dijumpai mikroorganisme. Mikroorganisme pada makhluk hidup hanya dijumpai di bagian-bagian dan rongga-rongga tubuh yang berhubungan dengan dunia luar. Misalnya: otot hewan dan jaringan-jaringan tumbuhan semuanya bersifat steril (bebas dari kuman), akan tetapi bila permukaan kulitnya terluka/terkelupas atau bila menjadi lemak akibat terangsang penyakit atau karena kematian maka mikroorganisme dapat menghancurkan jaringan kulit dan menembus ke dalam jaringan. Contoh lain, misalnya; air susu : air susu yang dihasilkan hewan bersifat steril tetapi ketika melalui rongga dalam kambing mulailah terjadi kontaminasi dan ini menjadi makin besar ketika air susu kontak dengan udara dan peralatan pemerahan dan penampungan susu.

Bakteri, Khamir, dan kapang ternyata dapat menyerang hampir semua konsumen dari bahan hasil pertanian. - Ada yang dapat mengfermentasi gula dan pati - ada yang bisa menguraikan lemak dengan menghasilkan ketengikan - dan adapula yang dapat menguraikan protein dengan menimbulkan bau busuk dan bau amonia. Ada pula jenis-jenis mikroorganisme yang menghasilkan asam dan gas sehingga makanan tampak berbusa - ada juga yang menghasilkan pigmen-pigmen yang menyebabkan diskolorasi bahannya (perubahan warna) - serta ada pula yang menghasilkan racun. Kontaminasi bahan hasil pertanian oleh mikroorganisme umumnya menimbulkan gejala-gejala kerusakan yang kompleks yang terjadi secara simultan atau dapat pula berupa serangkaian perubahan dengan urutan tertentu misalnya, pembentukan asam, gas, bau-bau busuk, perubahan-perubahan warna, dsb.

Kerusakkan yang ditimbulkan oleh mikroorganisme bisa sangat besar, dan hal ini terutama disebabkan karena mikroorganisme berkembangbiak dengan cepat sekali bila keadaan lingkungannya menguntungkan. Misalnya; dalam suasana lingkungan yang baik jumlah mikroorganisme dapat meningkat 2 kali dalam waktu 30 menit. Sebagai contoh, misalnya air susu segar yang belum dipasteurisasikan umunya mengandung 100.000 mikroorganisme per ml, jumlah ini dapat berlipat ganda menjadi 25 juta dalam 24 jam dan 5 triliun (5x109) dalam waktu 96 jam.

Menurut suhu yang diperlukan mikroorganisme untuk dapat tumbuh dan berkembang biak maka mikroorganisme itu dapat dibagi menjadi 3 golongan :

* Jenis-jenis yang mesofil : 16-38°C. Sebagian terbesar dari mikroorganisme termasuk golongan ini.

* Jenis-jenis yang psychrofil : 0-16°C

* Jenis-jenis : 38-80°C

Spora dari bakteri bersifat sangat tahan terhadap suhu tinggi ; spora-spora ini kemudian dapat tumbuh bila suhunya turun kembali hingga suhu yang baik untuk pertumbuhannya.

Menurut kebutuhannya akan oksigen mikroorganisme dibedakan atas jenis-jenis yang aerobik (memerlukan O2) dan anaerobik (untuk tumbuh memerlukan suasana bebas oksigen/dengan tekanan oksigen rendah)

Mikroorganisme yang merugikan meliputi mikroorganisme pembusuk dan mikroorganisme yang menimbulkan penyakit infeksi dan penyakit intoksikasi.

* Penyakit infeksi adalah penyakit-penyakit yang ditimbulkan karena saat dikonsumsi terkontaminasi oleh mikroorganisme yang kemudian berkembangbiak dalam tubuh manusia dan menimbulkan gejala-gejala penyakit.

* Penyakit intoksikasi/keracunan adalah penyakit-penyakit yang ditimbulkan karena orangnya memakan pangan yang mengandung racun/toksin ; racun tersebut dihasilkan oleh mikroorganisme yang tumbuh dan berkembang dalam bahan tersebut sebelum dimakan. Jadi, gejala penyakitnya disebabkan oleh toksinnya dan bukan mikroorganismenya.

Jenis-jenis mikroorganisme yang menimbulkan infeksi adalah terutama jenis bakteri :

* “Salmonella”

* Penyakitnya ada 2 macam, yaitu Salmonellosis dan Demam enteric.

* Salmonellosis yaitu gejala tampak sebagai gastroenteritis. Sakit perut, diare, dan pembentukkan gas.

* Demam Enteric : contohnya adalah demam tipus yang disebabkan oleh Salmonella Typhi dan demam Parathypus yang disebabkan oleh Salmonella Paratyphi.

* “Clostridium Perfringens”

Penyakit yang ditimbulkan adalah gastroenteritis : Penyakit perut, diare, dan pembentukkan gas.

* “Shigella Dysenteriae”

Menimbulkan Disentri Basiler.

* “Vibrio Parahaemolyticus”

Menimbulkan gastroenteritis, banyak dijumpai di jepang karena konsumsi ikan laut segar.

* “Esherichia Coli”

Menimbulkan gastroenteritis

* “Bacillus Cereus”

Menimbulkan gastroenteritis

Selain itu juga terdapat penyakit infeksi yang ditimbulkan oleh virus antara lain Virus Hepatitis, Virus Polio, dll.

Mikroorganisme yang menimbulkan penyakit infeksi yang ditimbulkan oleh virus antara lain :

* “Clostridium Botulinium”

o Penyakitnya dikenal sebagai “Botulism”, dengan gejala sakit perut, diare, muntah-muntah, mata berkunang-kunang, otot kejang-kejang, paralysis otot-otot system pernapasan dan jantung.

o Sumber: Makanan kaleng yang proses pernapasannya kurang baik, daging, dan ikan.

* “Staphylococcus Aureus”

o Menimbulkan gastroenteritis

o Sumber : Berisi krim, daging dan unggas, produk-produk yang mengandung susu, dll. Umumnya karena pendinginan yang tidak sempurna.

* “Aspergillus Flavus”

o Kapang ini menghasilkan Aflatoksin yang bersifat karsinogenik dan mutagenik.

o Sumber : Kacang tanah, kacang kedelai, bungkil kelapa, minyak kelapa kasar.

* “Pseudomonas Cocovenenans”

o Kapang ini menghasilkan 2 macam toksin yaitu toksoflavin dan asam bongkrek, dan menimbulkan keracunan tempe bongkrek.

o Asam bongkrek mempengaruhi metabolisme glikogen dengan akibat-akibat fatal.

InSeKtA, pArAsIt, DaN tIkUs

Kerusakkan karena serangan insekta di negara-negara maju meliputi 5-10%, tetapi negara-negara yang sedang berkembang mencapai 50%. Pada serangan insekta, bukan saja serangga-serangga memakan bahan hasil pertanian tetapi juga selalu diikuti serangan bakteri, khamir dan kapang.

Pada serelia, buah-buahan yang dikeringkan serta rempah-rempah serangan hama dapat dikendalikan dengan femigasi antara lain dengan metil-bromida, etilen-oksida, propilen-oksida, dll. Fumigan-fumigan etilen dan propilen-propilen tidak bisa diterapkan pada makanan berkadar air tinggi karena membentuk toksin.

Pada tepung terigu dapat diatasi dengan menyemprotkan tepung dengan tekanan tinggi pada suatu permukaan yang keras, dengan cara ini telur serangga akan rusak.

Kontaminasi bahan makanan oleh insekta tidak dapat dikendalikan secara sempurna, karena itu di negara-negara maju, seperti Amerika Serikat, diterapkan standar kontaminasi yang masih diperbolehkan.

Jenis-jenis parasit yang mengkontaminasi bahan makanan adalah antara lain Cacing Trichina Spiralis dan Entamoeba Histolytica.

  • Trichina Spiralis disebarkan melalui daging babi, dapat diatasi dengan jalan memasak lebih lama atau membekukan daging sebelum dimakan.
  • Entamoeba Histolytica menimbulkan penyakit disentri amoeba.

Tikus merupakan problema bukan saja karena hasil panenan, tetapi juga karena perkembangbiakkannya yang sedemikian cepat. Seekor tikus dapat hidup 2-3 tahun, dan dalam masa itu beranak 3-5 pertahun dengan tiap kali 7-8 anak. Selain itu kotorannya juga bisa mengandung bakteri penyebab penyakit seperti Salmonella, dll.

E n Z i M

Enzim yang terdapat pada bahan hasil pertanian dapat berasal dari bahannya sendiri dan juga bisa berasal dari mikroorganisme yang mengkontaminasi.

Enzim dapat menimbulkan reaksi-reaksi fermentasi, ketengikan maupun pembusukkan.

Aktivitas enzim masih berlangsung terus menerus sekalipun bahan hasil pertanian itu telah terpisah dari pohon atau pada hewan setelah pemotongan atau dalam hal susu setelah pemerahan.

Pada umumnya aktivitas enzim meningkat secara dramatis setalah pemanenan atau pemotongan. Hal ini disebabkan karena aktivitas enzim dipengaruhi/dikendalikan oleh banyak faktor. Setalah pemanenan/pemotongan kesetimbangan antara faktor-faktor tersebut hilang. Contoh : Pepsin, merupakan enzim yang diperlukan untuk pencernaan protein dalam saluran pencernaan, tetapi dalam hewan hidup enzim tersebut tidak akan bereaksi dengan dinding usus yang terbuat dari protein juga. Bila hewan tersebut dipotong maka sifat ini akan hilang.

Untuk mencegah terjadinya kerusakan bahan hasil pertanian oleh enzim, maka enzim perlu di-non-aktifkan yaitu dengan jalan pemanasan, penggunaan zat-zat kimia, radiasi, dll.

Aktivitas enzim tidak selalu merugikan misalnya : pada pemasakan buah dan pelayuan daging.

SuHu TiNgGi DaN sUhU rEnDaH

Suhu mempengaruhi pertumbuhan mikroorganisme dan kecepatan reaksi-reaksi kimia, baik yang enzimatis maupun yang non-enzimatis. Dalam kisaran suhu 10-38°C ( Kisaran suhu penyimpanan bahan hasil pertanian ), kecepatan reaksi kimia akan naik 2 kali untuk setiap kenaikan suhu sebanyak 10°C. Reaksi-reaksi kimia dapat mengakibatkan penguraian vitamin, rusaknya protein, dll. Suhu tinggi juga dapat mempengaruhi pengeringan bahan.

Suhu rendah yang tidak diatur secara baik juga dapat menyebabkan kerusakan bahan hasil pertanian, misalnya sayuran dan buah-buahan akan mengalami kerusakan tekstur antara lain kulitnya pecah. Selanjutnya hal ini akan memudahkan terjadinya serangan mikroorganisme. Selain itu suhu yang terlalu rendah juga dapat merusak bahan cair, misalnya pecahnya susu atau emulsi ( Pemisahan fraksi lemak dari fraksi air )

Pada sayuran dan buah-buahan perlu diingat bahwa setiap jenis memliki suhu penyimpanan optimum. Bila disimpan di bawah suhu optimum maka dapat terjadi Chiling Injury, yang dapat tampak sebagai perubahan warna, permukaan yang bopeng dan pembusukan. Pisang dan tomat adalah contoh produk yang tidak tahan terhadap suhu yang terlalu rendah, suhu penyimpanannya harus di atas 10°C. Pada umumnya sayuran dan buah-buahan disimpan pada suhu 4°C.

U d A r A / o K s I g E n

Oksigen dalam udara dapat merusak vitamin-vitamin terutama vitamin A dan C, pigmen, zat-zat flavor, dll. Disamping itu udara juga mempengaruhi pertumbuhan mikroorganisme terutama kapang. Kapang adalah mikroorganisme aerob, karena itu selalu dijumpai pada permukaan bahan hasil pertanian.

Udara dan oksigen sekitar bahan hasil pertanian dapat diatur dengan cara melakukan vakumisasi kemasan-kemasan, dengan mengganti udara dalam kemasan dengan gas lambam/inert (N2 dan CO2) atau dapat pula dengan jalan menambahkan zat-zat kimia yang dapat mengikat sisa oksigen dalam kemasan.

C a H a Y a

Cahaya dapat menimbuilkan kerusakkan pada vitamin-vitamin (Riboflavin, vitamin A dac C) dan pigmen. Contohnya : Susu yang dikemas dalam botol plastik mengalami kerusakkan “ Sunlight Flavor “ dan pemudaran warna daging. Pengaruh cahaya dapat diatasi dengan kemasan yang tidak tembus cahaya.

PrInSiP-pRiNsIp PeNgAwEtAn BaHaN hAsIl pErTaNiAn

Untuk bahan-bahan hasil pertanian yang tidak akan disimpan untuk jangka waktu panjang, prinsip-prinsipnya adalah sebagai berikut :

* Pertahankanlah bahan hasil pertanian itu dalam keadaan hidup selama mungkin d.p.l. janganlah mematikan hewan/tanaman sebelum tiba saatnya untuk dimasak. Misalnya : ikan sebaiknya disimpan dalam tangki-tangki air dalam keadaan ini kerusakkan yang dapat terjadi padanya kecil.

* Jika bahan hasil pertanian itu telah mati maka hendaknya segera dibersihkan, dibungkus lalu disimpan dalam lemari es.

Dengan cara-cara tersebut proses pembusukkan dapat kita perlambat sedikit.

Untuk bahan-bahan hasil pertanian yang akan disimpan untuk jangka waktu diperlukan perlakuan-perlakuan lain yang terutama ditujukan pada in-aktivasi dari mikroorganisme yang merupakan faktor utama dari proses pembusukkan.

Pertumbuhan mikroorganisme dapat dikendalikan dengan :

* Pemanasan

* Pendinginan

* Pengeringan

* Pemakaian garam, asam, gula, asap, dan bahan-bahan pengawet

* Radiasi

Setiap cara pengawetan tersebut di atas juga memiliki pengaruh-pengaruh buruk terhadap kualitas bahan hasil pertanian sebetulnya merupakan kompromi antara usaha membunuh mikroorganisme pembusuk dan usaha untuk menekan kerusakan-kerusakan akibat penerapan tersebut hingga seminimal mungkin.

READ MORE - artikel

Kamis, 27 Mei 2010

Artikel Pangan

Teknologi Pengolahan Mentega
Lemak dan minyak merupakan zat makanan yang penting untuk menjaga kesehatan tubuh manusia. Selain itu lemak dan minyak juga merupakan sumber energi yang lebih efektif dibandingkan karbohidrat dan protein. Satu gram minyak atau lemak dapat menghasilkan 9 kkal, sedangkan karbohidrat dan protein hanya menghasilkan 4 kkal/gram. Lemak dari susu dapat dipisahkan dari komponen lain dengan baik melalui proses pengocokan atau churning. Dengan cara tersebut, secara mekanik film protein disekeliling globula lemak retak dan pecah, sehingga memungkinkan globula lemak menggumpal dan menyusup ke permukaan. Cara ini merupakan proses pemecahan emulsi minyak dalam air dengan pengocokan (Winarno, 1992).

Mentega adalah produk hasil olahan susu yang memiliki dua jenis rasa yaitu asin (salted butter) dan tidak asin (unsalted butter). Mentega biasanya dijual dalam bentuk krim yang dikemas dalam kaleng atau kaleng plastik, atau batangan yang dikemas dalam kertas aluminium.

Mentega terbuat dari susu sapi segar (susu murni) yang ditambahkan whipping cream yang banyak mengandung lemak. Pembuatan mentega secara tradisonal berawal dengan memasukan susu berlemak tersebut dalam bejana atau kantung kulit yang kemudian dilakukan agitasi atau pengocokan kantung tersebut sehingga komponen lemak susu terpisah dan terbentuklah mentega.

Mentega merupakan emulsi air dalam minyak dengan kira-kira 18 % air terdispersi di dalam 80 % lemak dengan sejumlah kecil protein yang bertindak sebagai zat pengemulsi (emulsifier). Mentega dapat dibuat dari lemak susu yang manis (sweet cream) atau yang asam. Mentega dari lemak yang asam mempunyai citra rasa yang kuat. Lemak susu dapat dibiarkan menjadi asam secara spontan atau dapat diasamkan dengan penambahan pupukan murni bakteri asam laktat pada lemak susu yang manis yang telah dipasteurisasikan sehingga memungkinkan terjadinya fermentasi (Winarno, 1993).

Menurut Standar Nasional Indonesia (SNI 01-3744-1995), mentega adalah produk makanan berbentuk padat lunak yang dibuat dari lemak atau krim susu atau campurannya, dengan atau tanpa penambahan garam (NaCl) atau bahan lain yang diizinkan, serta minimal mengandung 80 persen lemak susu.

Mentega dapat dibuat dari lemak susu yang manis (sweet cream) atau yang asam. Mentega dari lemak yang asam mempunyai cita rasa yang kuat. Lemak susu dapat dibiarkan menjadi asam secara spontan atau dapat diasamkan dengan penambahan pupukan murni bakteri asam laktat pada lemak susu yang manis yang telah dipasteurissasikan, sehingga memungkinkan terjadinya fermentasi. Lemak susu dinetralkan dengan garam-garam karbonat, kemudian dipasteurisasi. Sedangkan bakteri yang diinokulasikan biasanya bakteri Sterptococcus citrovorus, S.paracitrovus, Lactobacillus lactis dan Bacillus viscosus sacchari. Zat warna bila diperlukan, ditambahkan ke dalam lemak susu sebelum churning. Zat pewarna yang sering digunakan adalah karoten, yaitu zat pewarna alamiah yang merupakan sumber vitamin A (Winarno, 1993).

Mentega terbuat dari krim susu, walaupun mentega dapat juga dibuat dari susu sapi penuh. Krim untuk pembuatan mentega sebaiknya mengandung 30-35 % lemak susu. Apabila kurang dari 30 %, maka penumbukan akan sukar dulakukan dan hasilnya akan sedikit. Namun apabila lebih dari 40 %, maka akan meyebabkan lemak banyak yanng hilang dalam susu tumbuk (butter milk, susu sisa pembuatan mentega). Sedangkan bahan penunjang yang ditambahkan dalam proses pembuatan mentega ini adalah whipping cream. Whipping cream merupakan susu yang mempunyai tekstur yang halus dan kental. Whipping cream sendiri mempunyai kandungan lemak yang tinggi. Whipping cream dapat membantu dalam pembentukan tekstur mentega, karena dengan penambahan whipping cream maka pembentukan globula lemak akan lebih mudah pada saat penumbukan.

Proses pembuatan mentega diawali dengan mencampurkan susu sapi segar (susu murni) dengan whipping cream dengan perbandingan 60 : 40. Krim susu yang dihasilkan dimasukan ke dalam wadah tertutup berupa stoples atau tempat nutrisari yang besar kemudian dilakukan churning atau pengocokan dengan cara mengocok selama 5 menit dan didiamkan selama 5 menit dan begitu seterusnya sampai dihasilkan bakal mentega yang dirasa baik.

Setelah dihasilkan bakal mentega yang terpisah dengan cairanya, dilakukan pengukuran volume dari butter milk dan bakal mentega tersebut dicuci dengan air dingin sebanyak volume dari butter milk yang dihasilkan tadi. Setelah itu dilakukan penyimpanan dalam lemari es selama 1 jam dibungkus dengan menggunakan kertas alumunium foil.

Proses pembuatan mentega dalam industri meliputi pemisahan lemak (krim) dari susu, pasteurisasi susu, pematangan krim, pemberian warna, penumbukan (churning), dan pengemasan.

Maksud dilakukan churning adalah agar lemak susu dipisahkan dari bahan krim lainya. Prinsip penumbukan adalah destabilisasi krim yang merupakan emulsi lemak dalam air menjadi produk dimana lemak merupakan fase kontinu dan mengandung titik-titik air sampai 16 % yang terdispersi halus. Pada proses penumbukan terjadi denaturasi oleh agitasi kuat untuk melepaskan material membran dari permukaan butiran lemak. Material membran kemudian masuk kedalam susu tumbuk. Agar lebih efektif, penumbukan dilakukan pada suhu yang menyebabkan butiran-butiran lemak. Suhu yang terlalu tinggi tidaklah baik, karena akan menyebabkan lemak menjadi cair. Setelah bakal mentega dihasilkan maka dilakukan pencucian untuk menghilangkan asam dan protein. Pencucian dilakukan dengan air dingin agar mentega keras. Pencucian dilakukan 2 – 3 kali. Jika dilakukan terlalu banyak akan menyebabkan hilangnya flavor dan aroma (Buckle, 1987).

Pemisahan krim dilakukan dengan alat krim separator. Pasteurisasi dengan pemanasan perlu untuk membunuh sebanyak mungkin mikroorganisme yang ada dalam krim supaya tidak menggangu pematangan dengan starter, dan juga supaya mentega yang diperoleh lebih awet. Warna asli mentega bervariasi dari kuning-putih sampai kuning tua, tergantung adanya karotin dari bahan, supaya mentega memiliki warna kuning yang merata, perlu ditambahkan zat warna kuning (Muchidin, 1993).


Gambar 1. Diagram Alir Pembuatan Mentega

Sumber :

Buckle, A, K., Edwards, A, R., Fleet, H, G., Wootton, M., 1987. Ilmu Pangan. Penerbit Universitas Indonesia Prees, Jakarta.

Muchidin, A., 1993. Diktat Teknologi Pengolahan Pangan. Universitas Bandung Raya.

Winarno, FG, 1992. Kimia Pangan dan Gizi. Penerbit PT Gramedia Pustaka Utama, Jakarta.

Winarno, FG, 1993. Gizi, Teknologi, dan Konsumen. Penerbit PT Gramedia Pustaka Utama, Jakarta.
READ MORE - Artikel Pangan